Skip to main content

Tentang Ogoh-ogoh kami Bhuta Ngawesari

Ogoh-ogoh Banjar Tainsiat panen kecaman. Banyak netijen yang menghujat, mengejek, bahkan mengatai, di akun Instagram NusaBali dan juga akun TikTok saya pribadi, dari semalam sampai malam ini. Itupun beberapa ejekan saya dengar sendiri saat berteduh di salah satu emperan atap pinggir jalan dari hujan gerimis sebelum Ogoh-ogoh mencapai Catur Muka.

Satu sisi saya mengakui bahwa karya seni kali ini, yang diberi tajuk Bhuta Ngawesari, memang banyak kekurangannya. Tidak hanya dari sisi detail dan teknologi gerak yang begitu dinanti banyak orang, tapi juga manajemen waktu, minimnya koordinasi, dan yang paling penting, malah merepotkan dan mengecewakan banyak orang. Kasihan banget mereka yang sudah datang jauh-jauh, berkali-kali, dari awal bulan Maret, untuk melihat sendiri seberapa jauh penyelesaian yang sudah dikerjakan sampai H-0, pagi sebelum meprani. Sementara ekspektasi orang bisa jadi sudah terlampau tinggi, melihat dari apa yang sudah pernah dihasilkan di masa lalu. Jadi makin banyak haters gegara 'image' yang dikesankan secara tidak sengaja, bahwa adik-adik kami ini memang menunda semuanya agar tidak sampai ditiru orang lain. 

Bahkan sang arsiteknya pun merasa bahwa hasil yang didapat kali ini tak sesuai harapan saat ia jalan berjajar dengan saya, usai pengarakan di Titik Nol Kota Denpasar. 

Ia juga masih sempat membuat video klarifikasi sesaat setelah kami usai mengarak ogoh-ogoh mengelilingi Catur Muka, yang kemudian di Repost oleh banyak akun lainnya. Tidak lupa, menurunkan Surat permohonan maaf dengan menggunakan kop surat Sekaa Teruna kami, yang beredar di dunia maya dan juga Whatsapp Group sejak sore tadi. 

Kami yang saat ini mendapat mandat selaku yang dituakan oleh warga adat, sejal awal sudah berkali-kali mengingatkan agar pengerjaan ogoh-ogoh banjar tahun ini, bisa diselesaikan lebih awal. Termasuk urusan baju seragam yang dibuat pada rentang bulan terakhir. Namun kabar mengagetkan datang pas penanggalan kalender masuk belasan akhir di bulan Maret, dimana mereka ternyata masih menunggu part pesanan dari Negara China sana. Sedianya diharapkan bisa selesai tanggal 9 Maret, apa daya baru bisa diterima tanggal 22 pagi. Bisa jadi, inilah salah satu penyebab keterlambatan pekerjaan mereka kali ini. 

Tapi terlepas dari apapun alasannya, sebagai kakak ataupun mungkin orangtua mereka, saya pribadi tetap menyatakan Salut, baik kepada Sekaa Teruna Yowana Saka Bhuwana yang telah menghabiskan banyak waktu begadang setiap hari agar bisa menyelesaikan ogoh-ogoh dalam waktu yang sempit, atau berpeluh berlatih gong kreasi, bahkan ada yang tampil dengan Jegog tradisional Jembrana. Termasuk pada sang arsitek pakMan Kedux beserta Tim mereka yang saya pantau bekerja extra keras dalam memadukan pergerakan dan hadirnya part mesin yang baru, serta tetap berupaya menyelesaikan karya sesuai konsep awal. Dan meskipun hasilnya agak mengecewakan, dan jauh lewat dari waktu maksimal yang ditentukan, saya tetap berharap bahwa ini bisa menjadi satu pengalaman berharga kedepannya, agar mereka bisa menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. 

Tetap semangat ya adik-adik Yowana, jangan patah semangat dan tetap berkarya. Khusus untuk PakMan Kedux, masukan saya kemarin malam jangan dilupakan. Wajar jika kemarin itu berada dalam posisi tekanan mental, berkarya dihadapan banyak orang, dengan harapan yang bisa jadi terlampau tinggi. Kalian Hebat bisa sampai di posisi ini.


Comments

Postingan Lain

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu.  Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi. *** PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan. Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pan...

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dil...

Menantu Mertua dan Calon Mertua

Menonton kembali film lama Meet the Parents (2000) yang dibintangi oleh Ben Stiler dan Robert De Niro, mengingatkan saya betapa terjalnya perjalanan seorang calon menantu untuk mendapatkan kepercayaan sang calon mertua, atas putri kesayangan mereka yang kelak akan diambil menjadi seorang istri dan pendamping hidup. Meski ‘kekejaman’ yang ditunjukkan oleh sang calon mertua dalam film tersebut *sosok bapak* jauh lebih parah dari yang saya alami, namun kelihatannya cepat atau lambat, akan saya lakoni pula nantinya. Memiliki tiga putri yang salah satunya sudah masuk usia remaja, adalah saat-saat dimana kami khususnya saya sudah sewajarnya masuk dalam tahapan belajar menjadi seorang kawan bagi putri sulung saya satu ini. Mengingat ia kini sudah banyak bertanya perihal masa lalu yang saya miliki, baik soal pendidikan atau sekolah, pergaulan dan hobi. Memang sih untuk urusan pacar, ia masih menolak berbicara lebih jauh karena berusaha tak memikirkannya, namun sebagai seorang Bapak,...

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.