Skip to main content

Cina Kecil satu ini Nakal sekali

Bukan…
Saya bukan mau ngebahas si Cina Kecil, tokoh nasional bangsa Indonesia yang fenomenal itu.
Bukan juga soal rasis yang biasa menjadi makian maha dashyat ke Pak Basuki ‘Ahok’ Tjahaya Purnama yang kini menginap di Mako Brimob.
Tapi soal putri kecil kami, si bungsu.
Cina Kecil yang Nakal sekali.

Ya, kalian ndak salah ingat.
Putri kecil kami, si bungsu, yang dahulu pernah kami tangisi sebulan lebih lamanya, gegara ditinggal sendirian di rumah sakit, lengkap dengan tangisannya yang melengking itu, kini sudah tumbuh menjadi sosok anak yang Nakal dan riang dalam kesehariannya bercanda bersama kami.

Pande Nyoman Mutiara AnnikaDewi.

Itu nama panjang yang kami berikan untuknya, dua tahun silam. Panggilannya sederhana. Gek Ara.

Dari segi wajah, Gek Ara adalah kembaran bapak satu-satunya. Ya, ia mirip sekali dengan saya. Bapaknya yang kini kurus kering dibabat Diabetes.

Ini selalu dilontarkan orang saat mereka melihat Ara lalu memandang wajah saya. Kembaran Bapak.

Maka ndak heran, kalo unsur Cina-nya langsung menurun.
Ya. Gek Ara memiliki mata kupit eh mata sipit khas orang Cina yang saya miliki sejak lahir. Itu sebabnya ia dijuluki Cina Kecil oleh pekak nininya. Kakek neneknya.

Entah bagaimana kisah perjalanan kelahiran hingga saya mewarisi mata sipit dari kedua orang tua yang sama sekali tak memiliki mata sipit. Katanya sih, waktu Ibu hamil dulu, Beliau ngidamnya masakan Cina. Entah ada hubungannya atau tidak, saya lahir dengan aksen Cina pada mata. Sehingga di era kekinian, saya kerap dipanggil ‘Koh’ saat berjalan-jalan di mall seputaran Surabaya atau Jakarta. He…

Cina Kecil yang Nakal.

Gek Ara kini bukan main nakalnya.
Ditambah Jahil, lengkap sudah ia diteriaki kedua kakaknya yang kerap menjadi korban keusilannya.
Dari pemindahan barang, menghilangkan yang uniknya bisa ia temukan kembali saat kami kebingungan mencarinya, hingga corat coret buku tulis dan tembok rumah, ia jabani dari pagi hingga petang. Tanpa kehabisan stamina.
Bagi saya, Ara tetaplah Ara. Anak kecil yang menggemaskan.
Maka meskipun Nakal, ia tetaplah kembaran saya yang begitu membuat kangen setiap kali pulang kerja.

Bahwa ia kerap di teriaki ‘Cina Kecil satu ini Nakal sekali’ oleh kakek neneknya, Cina Kecil ini adalah anugerah bagi keluarga kami yang udik ini.

dan tahukah kalian, bahwa Ara juga mewarisi gigi camed nak Jawe ala Buto Cakil Bapaknya ?

Comments

Postingan Lain

Jodoh di Urutan ke-3 Tanda Pesawat IG

Kata Orangtua Jaman Now, Jodoh kita itu adanya di urutan ke-3 tanda pesawat akun IG.  Masalahnya adalah, yang berada di urutan ke-3 itu bapak-bapak ganteng brewokan berambut gondrong.  Lalu saya harus gimana ?  #jodohurutanketigadipesawat  Mestinya kan di urutan SATU ?

Mewujudkan Agenda Cuti Bersama Lebaran

Tampaknya di Hari terakhir Cuti Bersama Lebaran, sebagian besar rencana yang ingin dilakukan sejak awal liburan sudah bisa terwujud, meski masih ada beberapa agenda lainnya yang belum bisa dijalani.  Satu hal yang patut disyukuri, setidaknya waktu luang jadi bisa dimanfaatkan dengan baik untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan tertunda beberapa waktu lalu.  1. Migrasi Blog Aksi pulang kampung ke laman BlogSpot tampaknya sudah bisa dilakukan meski dengan banyak catatan minus didalamnya. Namun setidaknya, harapan untuk tidak lagi merepotkan banyak orang, kedepannya bisa dicapai. Sekarang tinggal diUpdate dengan postingan tulisan tentang banyak hal saja.  2. Upload Data Simpeg Melakukan pengiriman berkas pegawai ke sistem online milik BKD rasanya sudah berulang kali dilakukan sejauh ini. Termasuk Simpeg Badung kali ini, yang infonya dilakukan pengulangan pengiriman berkas dengan menyamakan nomenklatur penamaan file. Gak repot sih sebenarnya. Tapi lumayan banyak yang harus dil...

Menantu Mertua dan Calon Mertua

Menonton kembali film lama Meet the Parents (2000) yang dibintangi oleh Ben Stiler dan Robert De Niro, mengingatkan saya betapa terjalnya perjalanan seorang calon menantu untuk mendapatkan kepercayaan sang calon mertua, atas putri kesayangan mereka yang kelak akan diambil menjadi seorang istri dan pendamping hidup. Meski ‘kekejaman’ yang ditunjukkan oleh sang calon mertua dalam film tersebut *sosok bapak* jauh lebih parah dari yang saya alami, namun kelihatannya cepat atau lambat, akan saya lakoni pula nantinya. Memiliki tiga putri yang salah satunya sudah masuk usia remaja, adalah saat-saat dimana kami khususnya saya sudah sewajarnya masuk dalam tahapan belajar menjadi seorang kawan bagi putri sulung saya satu ini. Mengingat ia kini sudah banyak bertanya perihal masa lalu yang saya miliki, baik soal pendidikan atau sekolah, pergaulan dan hobi. Memang sih untuk urusan pacar, ia masih menolak berbicara lebih jauh karena berusaha tak memikirkannya, namun sebagai seorang Bapak,...

Pengetahuan kecil tentang soroh PANDE

Sekali-sekali saya selaku penulis seluruh isi blog ini pengen juga ber-Narzis-ria, satu hal yang jarang saya lakukan belakangan ini, sejak dikritik oleh seorang rekan kantor yang kini jadi malas berkunjung lantaran Narzis tadi itu.  Tentu saja postingan ini bakalan berlanjut ke posting berikutnya yang isinya jauh lebih Narzis. Mohon untuk dimaklumi. *** PANDE merupakan salah satu dari empat soroh yang terangkum dalam Catur Lawa (empat daun teratai) Pasek, Pande, Penyarikan dan Dukuh- yang memiliki keahlian dalam urusan Teknologi dan Persenjataan. Ini bisa dilihat eksistensi pura masing-masing di Besakih, yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda dalam berbagai kegiatan Ritual dan Spiritual. Dimana Pura Pasek menyediakan dan menata berbagai keperluan upakara, Pura Pande menata segala peralatannya. Pura Penyarikan menata segala kebutuhan tata usaha administrasi agar segala sesuatu berjalan dengan teratur. Sedangkan Pura Dukuh Sakti sebagai penata berbagai keperluan sandang pan...

Warna Cerah untuk Hidup yang Lebih Indah

Seingat saya dari era remaja kenal baju kaos sampai nganten, isi lemari sekitar 90an persen dipenuhi warna hitam. Apalagi pas jadi Anak Teknik, baju selem sudah jadi keharusan.  Tapi begitu beranjak dewasa -katanya sih masa pra lansia, sudah mulai membuka diri pada warna-warna cerah pada baju atasan, baik model kaos oblong, model berkerah atau kemeja.  Warna paling parah yang dimiliki sejauh ini, antara Peach -mirip pink tapi ada campuran oranye, atau kuning. Warna yang dulu gak bakalan pernah masuk ke lemari baju. Sementara warna merah, lebih banyak digunakan saat mengenal ke-Pandean, nyaruang antara warna parpol atau merahnya Kabupaten Badung.  Selain itu masih ada warna hijau tosca yang belakangan lagi ngetrend, merah marun atau biru navy. Semua warna dicobain, mengingat hidup rasanya terlalu sederhana untuk dipakein baju hitaaaaam melulu.  Harapannya bisa memberikan warna pada hidup yang jauh lebih cerah, secerah senyum istri pas lagi selfie.